SEOUL – LE SSERAFIM telah meluncurkan album studio kedua mereka, PUREFLOW pt.1, dengan lagu utama “BOOMPALA” pada 22 Mei 2026, menandai evolusi filosofis grup.
Dirilis secara global pada 22 Mei 2026, PUREFLOW pt.1 adalah album studio kedua LE SSERAFIM di bawah naungan Source Music, sub-label HYBE. Album 11 lagu ini, yang dipimpin oleh “BOOMPALA”, menjadi penanda era “Fearless 2.0”, sebuah pergeseran naratif dari deklarasi tanpa rasa takut menuju pengakuan dan penerimaan ketakutan sebagai sumber kekuatan sejati. Judul album PUREFLOW sendiri merupakan anagram dari “POWERFUL”, terinspirasi dari kutipan dalam novel “Frankenstein” karya Mary Shelley.
Semua anggota LE SSERAFIM berpartisipasi dalam penulisan lirik dan lagu di album ini, termasuk Huh Yunjin yang juga berkontribusi pada “Celebration” dan “iffy iffy”, serta Kazuha pada “Trust Exercise”. Lagu “BOOMPALA” secara musikal menampilkan sampel dari hit tahun 1993, “Macarena”. Namun, perilisan ini tidak lepas dari perhatian publik, termasuk kekhawatiran atas cedera leher Kim Chaewon yang menyebabkan absennya dia dari promosi, serta kritik terhadap teaser video musik “BOOMPALA” yang dituduh melakukan apropriasi budaya. Grup ini juga mengumumkan tur dunia kedua mereka, PUREFLOW, yang akan dimulai pada 11 Juli 2026 di Incheon, Korea Selatan, mencakup 32 pertunjukan di 23 kota global.
Sebuah Meditasi tentang Kerentanan, Solidaritas, dan Kekuatan Transformasi
“BOOMPALA” menandai evolusi filosofis LE SSERAFIM, dari penolakan ketakutan menjadi penerimaannya sebagai fondasi kekuatan sejati. Jika sebelumnya mereka mendeklarasikan kekuatan melalui ketiadaan rasa takut, kini grup ini mengakui bahwa menghadapi dan merangkul ketakutanlah yang menjadikan mereka lebih kuat, sebuah konsep yang diuraikan lebih lanjut dalam analisis lengkap lagu BOOMPALA dari LE SSERAFIM. Pergeseran naratif ini menjadi inti emosional dari album PUREFLOW pt.1, dengan Huh Yunjin menjelaskan bahwa kekuatan kini datang dari keberanian untuk menghadapi ketakutan.
Secara musikal, “BOOMPALA” memadukan irama Latin house ceria dengan nuansa “Macarena”, namun liriknya menyelami filosofi Buddhis, khususnya “Heart Sutra”, yang mengeksplorasi konsep “kekosongan” dan “ketiadaan”. Kazuha menyoroti lagu ini sebagai pengingat bahwa masa sulit hanyalah bagian dari perjalanan, mendorong penerimaan emosi dan gerakan maju. Yunjin menambahkan bahwa ketakutan bisa menjadi ilusi tergantung perspektif. Lagu ini juga mencerminkan solidaritas dan pertumbuhan pribadi anggota, dengan partisipasi mereka dalam penulisan lirik, seperti yang diungkapkan oleh Hong Eunchae dan Sakura.




Be the first to share your thoughts on this article.