
MBG lahir dari kolom komentar, dikerjakan oleh generator AI, dan dimaksudkan sebagai satire. Satu hal yang tidak diperhitungkan penciptanya: algoritma tidak pernah bisa membaca ironi.
Ada sebuah lagu yang sudah mengisi FYP jutaan orang Indonesia tahun ini. Bukan dari musisi mapan. Bukan dari label dengan anggaran promosi. Penciptanya adalah akun bernama @vokaliz_netizen, labelnya bernama Jempol Netizen, dan liriknya bukan ditulis oleh siapapun.
Lirik itu dipungut. Satu per satu, dari kolom komentar di bawah video-video Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM sekaligus Ketua Umum Golkar. Komentar-komentar itu dimasukkan ke dalam generator musik berbasis AI, dan jadilah sebuah jingle pop/jazz yang terasa memiliki produksi lebih mahal dari yang semestinya bisa dibuat dengan cara itu.
Hasilnya: “Buah apa yang paling manis? Buahlil.” Dan, tidak kalah penting: “My little bolu ketan.”
Saya sudah mendengarkan lagu ini lebih banyak dari yang ingin saya akui. Semakin saya dengarkan, semakin saya yakin ini bukan sekadar tentang lelucon yang kebetulan viral.
Musik protes punya formula yang sudah lama dikenal. Kemarahan eksplisit, seruan untuk bergerak, lirik yang mengecam langsung. Itu logika yang membuat lagu-lagu era reformasi terasa seperti senjata, bukan sekadar seni.
Di tahun 2026, formula itu semakin sulit bekerja.
Kemarahan langsung terhadap tokoh publik mudah dilaporkan dan mudah dicap provokatif. Konten yang dianggap sensitif secara politik bisa terkena filter algoritma sebelum sempat menyebar. Platform punya mekanisme pelaporan massal yang lebih mudah dimanfaatkan oleh pihak yang punya lebih banyak sumber daya untuk melakukannya.
Lagu MBG tidak menyerang siapapun. Ia memuji. Dengan tingkat intensitas yang sedemikian tinggi hingga seluruh pujian itu runtuh menjadi absurd.
Dan absurd itulah yang membuatnya tak tersentuh. Tidak ada yang bisa melarang lagu yang menyebut seseorang “glowing koko.” Tidak ada somasi yang bisa diajukan terhadap lirik yang membandingkan seseorang dengan Zayn Malik, karena membandingkan seseorang dengan Zayn Malik adalah, secara harfiah, pujian.
Ini bukan protes. Ini lebih tepat disebut inflasi pujian: mendorong citra seseorang begitu jauh hingga citra itu akhirnya meledak menjadi parodi dari dirinya sendiri. Kritik yang paling efektif, rupanya, bisa terlihat seperti kebalikannya.
Selama puluhan tahun, identitas publik seorang pejabat dibentuk dari atas ke bawah. Tim komunikasi, billboard, konferensi pers, wawancara TV yang sudah dikontrol ketat. Citra adalah aset yang dijaga oleh orang-orang yang dibayar untuk menjaganya.
Apa yang terjadi pada Bahlil adalah kebalikannya secara sempurna.
Seorang pengguna anonim mengambil komentar-komentar berlebihan yang tersebar di internet dan memasukkannya ke generator audio berbasis browser. Dalam waktu singkat, terciptalah identitas publik baru untuk seorang menteri kabinet.
Bukan identitas yang dirancang oleh timnya. Identitas yang dirancang oleh massa yang tidak dia kendalikan, tidak dia minta, dan tidak bisa dia batalkan.
Dan hasilnya lebih menempel dari kampanye manapun.
Remaja yang tidak tahu nama lengkap Bahlil sekarang tahu bahwa dia “paling ganteng.” Yang lebih penting adalah respons formalnya: ketika Bahlil muncul di podcast Raffi Ahmad, ia sudah harus beroperasi di dalam frame yang diciptakan orang lain untuknya.
“Lucu ya, anak-anak saya juga godain saya soal itu. Nanti saya undang yang bikin lagu itu makan malam.” — Bahlil Lahadalia, podcast Raffi Ahmad
Ia tidak punya pilihan lain. Marah adalah respons yang jauh lebih buruk. Mengabaikan lagu yang sudah diputar jutaan kali bukan pilihan yang tersedia. Satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah tersenyum dan mengakui bahwa identitasnya kini sebagian milik kolom komentar.
Di sinilah letak paradoks yang membuat lagu MBG lebih menarik untuk dipikirkan dari sekadar meme satu musim.
TikTok tidak paham satire. Instagram Reels tidak membaca konteks politik. Yang dibaca algoritma hanya satu hal: engagement. Durasi tonton. Tingkat pengulangan. Seberapa sering audio dipakai ulang di video lain.
Lagu MBG punya semua itu. Produksinya catchy secara klinis dan karena audionya tersedia bebas di platform streaming, ia dipakai ulang di ribuan video yang tidak ada hubungannya dengan politik: konten memasak, video perjalanan, klip hewan peliharaan, reels lifestyle.
Efeknya adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh tim PR manapun dengan anggaran berapapun.
Nama Bahlil, kini melekat pada asosiasi yang ringan dan menghibur, tersebar ke demografi yang bahkan tidak mengikuti berita politik. Bagi generasi yang lebih muda yang tidak tahu detail kebijakannya, ia kini adalah tokoh yang “ternyata nggak lebay soal dirinya sendiri.” Itu atribut yang sangat berharga dalam politik era media sosial.
Garis antara kritik sosial dan kampanye PR gratis tidak hanya kabur di sini. Garis itu menghilang sepenuhnya. Lagu yang lahir dari ironi masif justru menjadi mesin visibilitas paling efektif yang pernah dimiliki sosok tersebut di kalangan pemilih muda.
Saya tidak ingin membesar-besarkan klaim seputar lagu MBG. Ini bukan revolusi. Penciptanya tidak memimpin gerakan sosial. Tidak ada manifesto yang menyertai rilisnya.
Tapi ada sesuatu yang bergeser dalam cara masyarakat digital berinteraksi dengan kekuasaan dan lagu ini adalah salah satu dokumen paling nyata yang pernah ada mengenai pergeseran itu.
Alat untuk menciptakan budaya populer, yang tadinya hanya dimiliki mereka yang punya studio rekaman dan jaringan distribusi, kini bisa dioperasikan oleh siapapun dengan koneksi internet dan waktu senggang. Itu bukan hal yang kecil.
Yang paling berdampak bukan lagunya sendiri. Yang paling berdampak adalah respons dari penguasa: senyuman yang dipaksakan, tawa yang terlatih, karena mereka tahu dengan tepat bahwa marah adalah pilihan yang jauh lebih buruk.
Para petinggi Golkar menyebutnya “lucu dan kreatif.” Bahlil mengundang penciptanya makan malam. Itu bukan respons spontan. Itu satu-satunya respons rasional yang tersedia ketika kamu tidak lagi mengendalikan narasimu sendiri.
Bahlil tidak menang di sini. Tapi netizen yang menciptakan MBG juga tidak menang sepenuhnya, karena mesinnya mengubah senjata mereka menjadi konten yang justru menguntungkan target mereka.
Mungkin itulah kondisi normal dari berkomunikasi di tahun 2026. Tidak ada yang benar-benar mengendalikan narasinya. Semua orang sedang bermain di dalam sistem yang tidak peduli pada siapapun, termasuk pada lelucon yang dimaksudkan sebagai kritik.
Termasuk saya, yang sudah mendengarkan “Kanda My little bolu ketan” cukup sering hingga hafal dan kini tidak yakin apakah itu menjadikan saya bagian dari kritiknya atau bagian dari masalahnya.
Comments are closed.