Column
Playlist Berdua Itu Tidak Pernah Benar-Benar Berakhir, Ia Cuma Berhenti Bertambah
Saya masih ikut satu playlist Spotify bareng teman SMA yang sudah dua tahun tidak ngobrol sama saya. Bukan karena berantem. Cuma menjauh, seperti yang sering terjadi setelah kuliah, setelah kerja,…
Oleh Maharani
Column
Kendangnya Lebih Rumit dari yang Kamu Kira dan Itu yang Membuat Koplo Menang
Setiap kali orang bilang koplo "cuma musik buat joget," aku selalu mikir mereka belum pernah benar-benar dengar kendangnya. Polanya tidak pernah berhenti di satu titik. Ia patah, lompat, balik lagi…
Oleh Muhammad Rizky
Column
Satu Orang, Tiga Proyek, dan Kosakata Kritik yang Belum Mengejarnya
Beberapa minggu lalu, saya membuka Spotify dan menemukan sesuatu yang seharusnya tidak mungkin terjadi di era streaming yang sudah terfragmentasi ini. Satu nama mendominasi lima chart sekaligus. Hindia di puncak…
Oleh Tyo Kusuma
Column
Ternyata Move On Juga Butuh Korban
Yang tidak ada yang ceritakan tentang move on adalah korbannya: bukan orangnya, tapi lagunya.
Oleh Maharani
Column
Saya Sudah Lama Ingin Tahu Kenapa ERK Masih Ada. Jawabannya Tidak Romantis.
ERK tidak bertahan karena sistemnya mendukung mereka. Mereka bertahan karena mereka tidak perlu sistemnya.
Oleh Tyo Kusuma
Column
Aku Dengar "Di Sayidan" di Jogja dan Baru Sadar Kenapa Musik Kota Ini Terasa Berbeda dari Semua yang Pernah Kudengar
Aku orang Bandung yang butuh tiga hari di Jogja untuk akhirnya benar-benar mendengar "Di Sayidan." bukan lewat lagunya, tapi caranya.
Oleh Muhammad Rizky
Column
Bernadya Menang Album of the Year. Sekarang Pendengarnya Tidak Mau Melepasnya Pergi
Album itu milik Bernadya, tapi kenangannya sudah terlanjur milik kita dan kita tidak tahu cara mengembalikannya.
Oleh Muhammad Rizky
Column
Gen Z Menemukan Dangdut. Versi Aslinya Lebih Keras.
Hipdut mengambil kendangnya, tapi cengkok Ikke Nurjanah tidak ada di sana dan itu bukan kebetulan.
Oleh Tyo Kusuma
Column
Lagu MBG Adalah Kritik Politik Terbaik Tahun Ini. Sayangnya Itu Juga yang Membuatnya Tidak Berguna
MBG lahir dari kolom komentar, dikerjakan oleh generator AI, dan dimaksudkan sebagai satire. Satu hal yang tidak diperhitungkan penciptanya: algoritma tidak pernah bisa membaca ironi.
Oleh Tyo Kusuma