Simpan lagu favoritmu, beri rating, dan jelajahi musik bersama.
Lanjutkan dengan GoogleBelum punya akun?
Bergabung untuk simpan, nilai, dan diskusi bersama.
Lanjutkan dengan GoogleSudah punya akun?
Kami akan mengirim tautan reset ke emailmu.

“Sebuah kolaborasi yang melampiaskan gairah akan keriuhan distortif musik-musik rock era '70an.”
Mooner dibentuk pada tahun 2015 di Bandung, Indonesia, sebagai proyek kolaborasi ambisius yang menyatukan talenta dari kancah musik independen tanah air. Anggotanya meliputi M. Absar Lebeh (gitar/vokal) dari The Slave, Rektivianto “Rekti” Yoewono (bass) dari The S.I.G.I.T., Pratama Kusuma (drum/vokal) dari Sigmun, dan Marshella Safira (vokal) dari Sarasvati. Awalnya, para musisi ini, yang juga sesama penggemar papan seluncur, mendirikan kelompok dengan aliran musik stoner rock yang terinspirasi kuat dari grup-grup musik Indonesia era 1970-an seperti Panbers dan AKA, serta band internasional seperti Blue Cheer dan Leafhound.
Proses pembentukan Mooner sebagian besar bersifat organik, berawal dari sesi jamming yang tidak disengaja dan berkembang menjadi materi lagu yang kemudian mengisi album debut mereka. Rekti Yoewono, yang dikenal sebagai vokalis dan gitaris di The S.I.G.I.T., mengambil peran bass di Mooner, menunjukkan eksplorasi musikal yang baru. Band ini dengan cepat menarik perhatian berkat latar belakang anggota-anggotanya yang sudah mapan, menjanjikan suara rock abrasif dengan sentuhan retro yang kental.
“12 tracks of heavy psych with strong influences of Indian Raga and Middle Eastern touches.”
Pada April 2017, Mooner merilis album penuh perdana mereka, Tabiat, melalui Bhang Records. Album ini segera diakui sebagai ‘monster’ dengan 12 lagu heavy psych yang kaya akan pengaruh raga India dan sentuhan Timur Tengah, memadukannya ke dalam ramuan stoner rock yang unik. Tabiat disebut sebagai pembaruan suara psikedelik berat Indonesia awal 70-an, namun tetap setia pada akar adegan aslinya.
Kritikus memuji Tabiat karena kepiawaian teknis dan kemampuannya menyuguhkan sinkopasi konstan antara instrumen, menciptakan keseimbangan antara keketatan dan ‘kelonggaran’ ala rock ‘n’ roll. Lagu-lagu seperti “Buruh”, “Takana 1”, “Ingkar”, dan “Lancang” menonjol dengan riff gitar fuzz yang kuat dan irama psikedelik yang memukau. Keberhasilan Tabiat tidak hanya terbatas di Indonesia; album ini dirilis secara global pada Desember 2017 melalui Outer Battery Records, dengan cetakan vinyl edisi terbatas yang memperluas jangkauan Mooner ke pasar internasional.
“Terus menghadirkan karya yang berbeda.”
Melanjutkan momentum dari kesuksesan Tabiat, Mooner merilis album kedua mereka, O. M. (juga disebut Om), pada Februari 2019. Album ini menunjukkan evolusi dalam suara band, mempertahankan ciri khas rock psikedelik mereka sambil terus bereksperimen dengan elemen-elemen baru. Mooner terus menegaskan posisi mereka sebagai salah satu band rock penting di kancah musik independen Indonesia, dikenal karena karyanya yang tidak pernah main-main dan penampilan live yang kuat.
Dengan Rekti Yoewono (bass), Marshella Safira (vokal), Absar Lebeh (gitar), dan Pratama Kusuma (drum) sebagai inti, Mooner terus menciptakan musik dengan distorsi mengaung dalam tempo lambat, sebuah gaya yang menjadi identitas mereka. Kehadiran mereka di festival-festival besar seperti Rock In Celebes pada tahun 2018 mengukuhkan reputasi mereka sebagai penampil live yang tidak diragukan lagi. Hingga saat ini, Mooner terus aktif, dengan rilisan terbaru seperti single “입춘 (the beginning of spring)” pada Februari 2025, menunjukkan komitmen mereka terhadap eksplorasi musikal yang berkelanjutan dan relevansi dalam lanskap musik kontemporer.
Jadilah yang pertama berbagi pendapat tentang “Privat: Artist Discussion: Mooner”