Simpan lagu favoritmu, beri rating, dan jelajahi musik bersama.
Lanjutkan dengan GoogleBelum punya akun?
Bergabung untuk simpan, nilai, dan diskusi bersama.
Lanjutkan dengan GoogleSudah punya akun?
Kami akan mengirim tautan reset ke emailmu.

"Little Princess!" menandai debut dinamis mereka, diikuti oleh eksplorasi suara yang lebih dalam.
Fime memulai perjalanan musik mereka pada tahun 2017, memperkenalkan diri dengan single debut “Little Princess!”. Band yang berbasis di LA ini, yang terdiri dari Beto Brakmo, Chase Cook, dan Maxine Garcia, dengan cepat menarik perhatian dengan pendekatan rock yang dinamis, dipengaruhi oleh punk mentah dan garage rock. Ini adalah periode pembentukan di mana mereka meletakkan dasar untuk suara khas mereka.
Pada tahun 2018, mereka merilis Outside EP, yang melanjutkan eksplorasi energi punk mereka. Namun, hanya setahun kemudian, pada tahun 2019, Sprawl EP menunjukkan kematangan yang signifikan. EP kedua ini memperluas jangkauan sonik mereka, merangkul pengaruh kontemporer seperti Spirit of the Beehive sambil tetap setia pada akar rock alternatif klasik dari band-band seperti Sonic Youth dan Pavement. Ini menandai transisi penting, menunjukkan kemampuan Fime untuk tumbuh dan bereksperimen.
"Born 2 Love" membuka jalan bagi Sweeter Memory, sebuah mahakarya indie rock yang kaya.
Awal tahun 2020 melihat Beto Brakmo dan Maxine Garcia memperluas horizon musik mereka, bergabung dengan band live Jay Som, sebuah kolaborasi yang akan membentuk fase berikutnya dari karir Fime. Pengaruh Melina Duterte dari Jay Som segera terlihat, dengan Duterte menjadi produser dan mixer untuk rilis-rilis Fime berikutnya. Pada tahun 2021, Fime kembali dengan single “Born 2 Love”, sebuah lagu indie rock yang cerah dan penuh mimpi, yang digambarkan sebagai “kembalinya yang cerah” setelah EP Sprawl.
Puncak dari periode ini adalah perilisan album debut mereka, Sweeter Memory, pada tahun 2022. Album ini, yang diproduksi oleh Melina Duterte, memantapkan Fime sebagai penulis lagu yang menarik dalam kancah guitar pop. Album ini memadukan fuzzy indie rock dengan sentuhan alt-country swing, jangle pop tahun ’60-an, dan otot post-punk, menunjukkan kemampuan mereka untuk menciptakan karya yang kohesif namun beragam. Sweeter Memory adalah bukti evolusi suara mereka, menyeimbangkan pengaruh sambil tetap mempertahankan identitas unik Fime.
"Better Half of a Dollar" dan "Soft Science" mengisyaratkan kedatangan Just Can't Win, sebuah pernyataan sonik yang berani.
Fime memulai tahun 2025 dengan serangkaian single yang mengisyaratkan pergeseran sonik yang lebih berani. “Better Half of a Dollar” dirilis sebagai potongan post-punk yang berapi-api, ditandai dengan vokal yang tajam dan riff yang berangin, menunjukkan arah yang lebih agresif. Mengikuti jejaknya adalah “Soft Science”, sebuah lagu power-pop yang menarik dengan hook yang tajam dan “otot siap mosh”, yang dibandingkan dengan Militarie Gun daripada suara Jay Som yang lebih lembut. Single-single ini, termasuk “Burning the Candle”, membangun antisipasi untuk rilis besar berikutnya.
Puncak dari evolusi ini adalah album kedua mereka, Just Can’t Win, yang dirilis pada tahun 2025. Sekali lagi diproduksi oleh Melina Duterte, album ini menambahkan “bobot” yang signifikan pada suara mereka, menarik dari pengaruh yang lebih berat dan menggabungkan elemen post-hardcore. Just Can’t Win menampilkan gitar yang eksplosif dan teriakan yang ganas, menandai era di mana Fime dengan berani mendorong batas-batas suara mereka, menunjukkan ambisi yang lebih besar dan kemampuan untuk mengisi ruangan dengan kehadiran sonik mereka.
Jadilah yang pertama berbagi pendapat tentang “Privat: Artist Discussion: Fime”